Halaman

Rabu, 21 Mei 2014

Kotak Surat Masa Depan

Terinspirasi gambar ini :





saya tiba-tiba punya ide untuk membuat email yang bisa dibaca di masa depan.

Email yang akan menceritakan perjalanan saya sampai nantinya bisa dibaca oleh keluarga atau anak saya di masa depan.

Untuk membuat sebuah ide atau hal baru, pastinya tidak akan lepas dari perhitungan atau perkiraan.
Baiklah begini perkiraan saya :

Mengingat teknologi akan selalu berkembang, maka sempat terlintas kira-kira email ini bisa bertahan berapa lama?
Oke mari kita hitung-hitung. Awal saya mengenal email waktu saya di bangku SMP dan itu sekitar 13 tahun yang lalu dan hingga sekarang email masih tetap dipakai. Bisa saja ada bentuk lain dari email di masa yang akan datang. Kalaupun hal itu terjadi, semoga saya masih sehat dan masih bisa memindahkan isi email tersebut ke bentuk yang paling canggih tersebut.

Selain itu untuk mengantisipasinya, selain membuat dalam bentuk email, saya akan menulis setiap perjalanan atau informasi yang ingin saya bagikan di masa depan dalam bentuk notes. jadi kemana-mana saya akan membawa notes kecil yang bisa saya tulisi yang juga cikal bakal tulisan saya nantinya di dalam email.

Inilah email saya untuk masa depan :

kotaksurat.masadepan@gmail.com

Hanya saya yang tahu passwordnya. Jadi email tersebut akan saya kirimin surat yang berisi cerita-cerita saya dimasa sekarang, mulai dari tempat-tempat yang saya kunjungi, berisi foto-foto, video, masalah pekerjaan, perasaan saya saat itu, sekedar menulis kata-kata mutiara yang mungkin saja terlintas atau bercerita tentang kalian, orang-orang dan sahabat yang saya temui yang masuk dalam lingkaran saya.

Bagi teman-teman yang mau berbagi cerita tentang saya, monggo silahkan bisa mengirimkan email.

Atau teman-teman bisa membuat kotak surat teman-teman sendiri yang akan dishare buat orang-orang yang berarti di masa depan.


 

Senin, 02 Juli 2012

Sudah Juli... (bagaimana dengan resolusi 2012?)

2012 adalah tahun yang menyenangkan bagi saya.
Kerja di BUMN, bagaikan seluruh impian menjadi nyata.

Kesenangan itu tidak saya lewatkan begitu saja. Saya komitmen untuk menjalani tahun 2012 jauh lebih baik oleh karena itu saya butuh resolusi untuk saya jalani di tahun 2012.

Resolusi itu saya tulis bulan November 2011 menjelang Natal. Tapi sekarang sudah Juli dan saya belum melakukan banyak terhadap resolusi saya. Resolusi saya hanya jadi data yang tersimpan dalam memopad di Blackberry. Sedang teringat akan resolusi. Maka sebelum berakhir tahun 2012 dan mengingat sekarang sudah Juli, saya ingin mengetik ulang resolusi tahun 2012, agar saya ingat dan dijalankan dengan baik.

Begini kira-kira isi resolusi dalam notes blackberry saya :

Menjelang natal di Gereja saya diingatkan tentang berkat Tuhan sepanjang tahun 2011. Kalau dipikirkan sangat banyak hal yang sudah didapatkan. Tidak cukup 1 buku tulis sidu isi 100 lembar untuk menuliskannya.
Kalau menurut kalian direkam saja, maka tidak cukup 100 keping VCD untuk mengabadikannya (lebay mode on)
Tahun 2011 banyak berkat yang ku dapat, bukan berarti tahun 2010 tidak banyak berkat ya.
Berkat luar biasa yang ku dapat adalah bisa lulus di perusahaan migas nasional.
Sesuatu yang luar biasa yang bisa kudapatkan. Semata-mata terjadi karena anugerah Tuhan saja.
Tinggal satu bulan lagi akan mengakhiri tahun ini.  Tidak ingin sama seperti tahun-tahun yang lalu dimana aku tidak pernah menyusun resolusi, maka tahun depan aku aku ingin berubah, menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih disiplin.
Resolusi akan ku susun dengan baik dan kalau ada yang gagal akan diberi hukuman. Hukuman hanya untuk memberi efek jera bagiku karena aku sada aku lemah dan terkesan "hot-hot taik chicken" alias panas-panas taik ayam.
 Aku mulai resolusi ku : dari waktu. Aku akan lebih disiplin dengan waktu.
1.  Membaca buku minimal 1 jam sehari dengan total buku yang dibaca 7 buku selama 1 bulan, dengan kriteria buku minimal 2 buku hukum.
2.  Saat teduh atau baca renungan setiap subuh (kira-kira jam 5) minimal 30 menit. Semata-mata untuk menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan.
3.  Setiap kali janji bertemu dengan teman atau siapapun minimal 10 menit sebelum jadwal sudah harus hadir di tempat.
Hanya sedikit resolusi yang ku buat dan sekarang sudah Juli namun dari semua resolusi itu baru yang nomor 2 yang dilakukan sesekali. Huuh... orang macam mana aku ini? Bagaimana dengan hukumannya? 
Karena saya orang yang pemaaf, maka terhadap kegalalan resolusi itu saya memaafkan diri saya saja. 


Untunglah diingatkan kembali dari memopad blackberry. Belum terlambat untuk melakukan resolusi dan menambahkan beberapa lagi dalam resolusiku.


Maka inilah tambahan resolusiku untuk tahun 2012 :
1. Mengurangi intensitas menggosipkan orang lain karena memang tidak ada untungnya. 
2. menyisihkan 1/10 gaji bukan untuk diri sendiri
3.  Mengingat moment penempatan wilayah kerja sudah dekat, maka pelayanan menjadi resolusi tahun 2012 juga. Di kota manapun akan ditempatkan, aku harus menjadi guru sekolah minggu lagi. Melayani Tuhan melalui anak-anak kecil ^_^. Hal yang sudah lama ku rindukan.

Mengawali bulan Juli dengan resolusi tengah tahun tidak masalah. Yang penting tetap semangat. Tidak ada kata terlambat untuk mengubah diri menjadi lebih baik dan dipakai untuk kemuliaan Tuhan.



Semoga langkahnya dipermudah di tahun 2012 ini.




Kamis, 28 Juni 2012

Tentang Uang

Kali ini saya ingin membahas tentang uang.
Bukan karena saya orang paling kaya yang berlebihan uang dan bukan pula karena saya orang miskin yang tak beruang setiap saat (karena biasanya diakhir bulan saya masih sering gak punya uang, makanya bukan setiap saat)
Diawali dengan pengalaman saya waktu kuliah sebagai anak kos-kosan dengan uang yang pas-pasan. Uang bulanan yang saya terima Rp500.000/bulan, untuk ongkos, uang makan, dll diluar biaya kosan karena uang kosan biasanya dibayarkan setahun.
Untungnya saya dapat beasiswa selama saya kuliah. Meskipun pembayaran beasiswa tersebut tersendat-sendat, tapi lumayan untuk nambah beli buku, makan di warung steak dan tempat nongkrong lainnya, buat gaya-gayaan ke salon dan gaya-gayaan anak kuliah dengan uang pas-pasan lainnya.
Dengan adanya beasiswa dan uang bulanan bukan berarti saya tidak terlepas dari keadaan krisis. Sering pencairan beasiswa terlambat atau kadang uang bulanan juga terlambat ditransfer, dalam keadaan seperti itu biasanya saya mengutang ke teman-teman yang punya uang bulanan lebih banyak.
Teman-teman kuliah sekaligus teman lingkungan kos-kosan saya lah yang sangat membantu saya dalam keadaan-keadaan sulit.
----

Memasuki dunia kerja, kejadian-kejadian seperti itu masih sering saya alami. Terlepas dari borosnya saya atau mungkin karena gaji saya masih kecil, keadaan kurang itu pun masih sering saya alami (semoga setelah kenaikan gaji nanti saya sudah bisa lebih baik).
Tak jarang saya masih beberapa kali meminta bantuan kepada beberapa teman. Dari beberapa teman itu saya menyimpulkan beberapa karekter teman yang harus diketahui sebelum meminjam uang :

Orang yang tulus, ciri-cirinya :


Dia akan membantu kita semampu dia.
Kalau lagi tidak punya uang cukup, biasanya dia memberi kita seberapa yang dia punya.
Seringkali dia lupa berapa jumlah hutang orang tersebut
Sebelum memberi uang, biasanya dia juga akan mendengarkan curhatan hati kita saat kurang uang


Orang yang pelit, ciri-cirinya :


Saat kita meminjam uang darinya biasanya dia akan bilang gak punya uang (padahal gajinya bisa hampir 10   juta)Biasanya jawabannya seperti ini :
sorry von, aku juga lagi sekarat, uangku ga ada (padahal gajinya 15juta sebulan karena bekerja di perusahaan minyak asing)
Kalau dia memberikan pinjaman, biasanya dia akan menagih dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya dan hampir menerorRp10.000 saja kita kurang membayar, biasanya dia akan tetap menghitung dan menagihkan kepada kita, dengan omongan seperti ini :
“eh, teringatnya Rp10.000 lagi belum kau kasih ya kemaren, von?
Kalau kita membayar lebih, biasanya dia tidak akan mengingat untuk memberikan kembaliannya kepada kita. Mungkin dalam hatinya, lumayan dapat tambahan bunga. 
Orang yang membantu dan suka mengungkit-ungkit kebaikannya, ciri-cirinya :
Seringkali dia mengungkit kebaikannya saat berkumpul dengan teman-teman. kalau sudah pernah ketemu orang seperti ini jangan pernah lagi meminjam uang kepadanya atau akan makan hati (minumnya tetap teh botol sosro)
Saat kita memakai uangnya pasti dia akan berkata : eh, von bukunya kau beli pake uang ku bukan?”, perkataan itu akan dikeluarkan di depan orang banyak.
Atau sambil bercanda dengan teman, dia akan menyelipkan kata-kata perihal hutang kita. Contohnya : “eh von, utangmu kapan mau kau bayar?”
Pokoknya akan mengeluarkan kata-kata yang akan memalukan kita atau meninggikan dia di depan umum.
Melihat keadaan-keadaan seperti itu, membuat saya mengambil sikap. Belajar untuk memiliki sikap yang baik dan tulus saat memberi pinjaman, saat saya memiliki uang yang banyak, saat teman benar-benar membutuhkan bantuan. Tidak membuat teman yang lagi berhutang menjadi malu, tidak mengungkit-ungkit pemberian, ya secara keseluruhan benar-benar tulus untuk memberikan yang terbaik buat teman. Karena terkadang teman juga malu untuk berhutang, tapi ya terpaksa demi kelangsungan hajat hidup.
Pada dasarnya uang hanya titipan. Kalau kita dikasih lebih, berarti harus memberi kepada yang kekurangan. Kalau kita dikasih kurang, masih bisa dibantu oleh teman yang lebih hanya asalkan jangan lupa membayar. Selain itu, usahakan untuk tidak hidup dalam hutang. Kasihan juga kalau orang terdekat atau teman terus-terusan kita hutangi.

Uang jangan disimpan untuk diri sendiri, karena jika disimpan untuk diri sendiri uang tidak ada gunanya. Dari definisinya saja uang adalah alat tukar yang dapat diterima secara umum. Jadi uang kita akan menjadi berharga apabila dipergunakan untuk orang lain (umum). 
Bukan berarti melarang untuk menabung. Tidak… saya malah mendukung gerakan menabung.

Tapi setelah uang ditabung, jangan menjadi pelit dan kikir. Berbagilah dan saling tolong menolonglah dalam menanggung bebanmu, salah satunya dengan berbagi dari uang yang kita dapatkan. Jangan menjadi orang yang cinta uang, tapi jadilah orang yang cinta sesama dan cinta Tuhan, karena kalau kita cinta uang ujung-ujungnya adalah dosa.

sumber : http://mitramatre.wordpress.com/2007/11/12/hello-world/



Minggu, 03 Juni 2012

Hal Menghakimi


Diawali dengan insiden kurang sopan yang saya lakukan pada saat bercanda. Sambil tertawa terbahak-bahak saya secara refleks memegang kepala seorang teman sebut saja teman H. Tidak bermaksud untuk menghajar atau melakukan hal yang salah dengan kepala itu, tapi sekedar hanya bentuk respon atas tawa yang berlebihan dan ungkapan hubungan pertemanan yang dekat.

Teman F yang melihat hal itu langsung menegur saya di depan teman-teman yang lain yang saat itu sedang ramai berkumpul. Dia menegur dengan logat Sumateranya yang khas dan ditambah dengan sedikit bumbu nyolot dan culas (karena memang teman saya itu pembawaannya sedikit culas):

“Gak sopan kali pun megang-megang kepala orang. Emang kau mau kepalamu dipegang trus ditempeleng sama orang?”

Saya yang mendapat teguran, seketika tersinggung, karena cara dia menyampaikan benar-benar menghakimi saya sebagai orang paling bersalah di dunia saat itu. Merasa sebagai terpidana karena sudah menempeleng kepala orang (padahal saya sedang tidak menempeleng kepala orang lain loh). Dalam hitungan detik, hati saya membuat pembelaannya sendiri.

Loh, aku gak nempeleng kepala si  H kok. Lagian teman yang saya pegang kepalanya diam saja, tidak tersinggung. Kayak dia gak pernah melakukan hal itu saja?

Saya ingin mengeluarkan kata-kata pembelaan itu dengan cara yang lebih nyolot daripada teguran yang diberikan kepada saya. Tapi langsung saya terdiam, menahan dalam hati dan keluarlah kata-kata yang sedikit lebih lembut:
Gak kok, aku cuma becanda.

Kemudian ditimpali lagi oleh teman saya F dengan logat yang lebih culas dari sebelumnya :
Kan gak mesti kepalanya juga.

Saya berfikir, sudahlah tidak usah diteruskan. Mungkin maksud teman memang baik. Saya diingatkan untuk tidak salah dalam bercanda dan tidak macam-macam dengan kepala orang. Saya kemudian diam, sambil dongkol dalam hati. Masih tersinggung dengan cara tegurannya yang culas dan nyolot.

Sebulan kemudian, saya dan teman saya tadi bersama teman yang lain sedang jalan-jalan untuk rekreasi dari Dipati Ukur Bandung menuju Sari Ater. Kita naik mobil teman yang berasal dari Yogyakarta dan teman saya yang menyetir sendiri mobil tersebut.  Teman yang tadi menegur saya duduk tepat di belakang bangku supir. Sambil jalan, kita bercanda-canda di dalam mobil sambil saling mengejek, teman saya yang sedang nyetir juga ikut-ikutan. Hingga akhirnya candaan kita menyinggung perasaan si teman yang menegur saya. Teman saya itu tersinggung, langsung mendeplak dari belakang kepala teman saya yang sedang menyetir mobil tadi sambil mengeluarkan kata-kata yang culas dan nyolot juga.

Teman saya yang seding nyetir langsung marah : “Iya, gw kan cuma becanda sama lu. Jangan main teplak kepala dong. Gak sopan banget sih lu!!!”

Mungkin karena dia dari Yogyakarta yang masih kental dengan tata karma hingga jadi sangat tersinggung dengan perlakuan teman saya tadi. Seketika mobil menjadi diam. Karena memang nada teman saya itu marah luar biasa karena dia tersinggung sekali kepalanya diteplak.

Saya yang melihat hal itu langsung berkata dalam hati, “perasaan dulu dia yang negur saya untuk tidak bercanda dengan kepala orang. Eh ternyata dia juga seperti itu, malah lebih parah dari yang pernah saya lakukan. Dasar…. Itu sama saja dengan istilah: selumbar di mata orang lain keliatan, tetapi balok dalam mati sendiri tidak keliatan. Dia terlalu gampang menegur saya, sementara kelakukannya sendiri masih lebih salah dari yang saya lakukan. Seharusnya dia keluarkan dulu balok yang didalam matanya baru bisa melihat dengan jelas selumbar yang di dalam mata saya.
Begitulah yang terjadi. Teman saya menghakimi saya, eh ternyata kemudian dia dihakimi dengan penghakiman yang sama yang dia lakukan terhadap saya.
Lantas dalam hal ini, apakah saya yang menulis cerita dalam blog ini benar? Tidak…. Justru dengan tulisan ini sebenarnya saya juga sedang menghakimi teman saya sendiri. Menghakimi bahwa teman saya itu telah melakukan hal yang lebih salah dari apa yang saya lakukan.

Jadi, apa maksudnya saya menulis hal ini? Hahahaha.... Saya ingin menyampaikan agar kita jangan terlalu gampang menghakimi orang lain. Kalau teman ada yang salah, tegur dia dibawah 4 mata saja, jangan di depan umum, karena sama saja dengan menghakimi.
Perbaiki diri kita hari demi hari. Memperbaiki diri sama saja dengan “mengeluarkan balok dari dalam mata kita”. Sehingga kita bisa lebih jelas melihat selumbar di mata teman kita.

Mulai hari ini, yuk… kita sama-sama STOP MENGHAKIMI ORANG LAIN. Perbaiki dan nilai diri kita sendiri baru orang lain.
Mari saling mengingatkan (ingatkan saya juga bila mulut saya terlalu suka menghakimi orang lain)

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu



Selasa, 29 Mei 2012

D O S A


Bagaimana rasanya saat kita menggaruk bagian tubuh yang gatal? Pasti rasanya sangat tenang dan menyenangkan, seakan-akan rasa gatal yang sedari tadi bergerak-gerak dan menari di atas kulit kita dihusir jauh-jauh. 

Tapi coba kalau kita hentikan kegiatan menggaruk tersebut sebentar saja. Ada timbul rasa jengkel dan resah karena rasa gatal terus mengganggu. Akhirnya kita lanjut untuk menggaruk bagian tubuh yang gatal itu lagi..lagi..lagi… hingga terasa lega. Tanpa kita sadari kuku kita telah melukai bagian tubuh yang gatal tadi. Kita tidak sadar karena sedikit demi sedikit kelukaan itu sudah kebal bagi tubuh.  Tidak akan terasa sakit lukanya sampai akhirnya tersentuh air. Saat tersentuh air, air akan mengenai luka itu sehingga bagian yang kita garuk tadi mulai perih dan menusuk.

Itulah yang terjadi dengan manusia yang hidup dalam dosa. Dosa itu menari-nari dalam pikiran dan hati kita. Menggoda untuk diikuti. Sesekali masih bisa dielakkan, kita masih tenang dan tidak diusik oleh nafsu dosa. Sampai akhirnya kita tertarik untuk mencobanya.

 “Sepertinya akan lebih enak jika aku ikuti kedosaan itu. Toh cuma sekali saja, tidak mungkin diulang kedua kali.” Itu kata-kata kompromi yang selalu keluar dari diri kita saat pertama kali berbuat dosa.

Berbekal sedikit perasaan bersalah, kita lakukan dosa. Setelah dilakukan, perasaan bersalah makin besar, takut ketahuan, dan takut-takut yang lainnya. Tapi mulai diimbangi dengan kompromi yang timbul lagi dalam hati. “Ah.. gak apa-apa kok, kamu cuma melakukannya sekali, gak akan ada yang tahu. Besok janji tidak akan diulangi lagi.”

Ternyata setelah dilewati, memang benar tidak terjadi apa-apa, malah lebih lega. Masalah bisa sedikit terselesaikan. Ya kalau begitu, besok melakukan dosa lagi gak apa-apa. Lebih nikmat malah. Sedikit-sedikit mengambil uang perusahaan tidak ada yang tahu, toh untuk keperluan orang susah seperti saya juga, begitulah contoh kompromi dosa yang mungkin timbul. Atau mungkin: selingkuh sekali saja kan ga masalah, selama tidak menghamili perempuan saja.

Setahun, dua tahu, tiga tahun, tidak ada yang tahu. Sama seperti menggaruk tadi, sekali, dua kali, tiga kali digaruk tidak terasa sakitnya. 
Hati nurani sudah mengingatkan, tapi sering diabaikan karena sudah terbiasa dengan nikmatnya dosa. Tidak ada takut lagi kepada Tuhan. Sampai akhirnya, dosa itu terungkap dan diketahui orang lain barulah kita merasakan perih dan sakit. Menyesal mengapa melakukannya dulu, mengapa terlalu berlebihan melakukannya, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Menyesal dan bertobat setelah keadaan menjadi lebih buruk. Bagus kalau bertobat, bagaimana bila tidak bertobat atau tidak ada waktu untuk bertobat? Hanya Tuhan yang bisa memberikan konsekuensinya.


Manusia tidak akan luput dari dosa. Tapi mulai bijaksanalah. Bila dosa itu sudah dilakukan dan hati nurani sudah mengingatkan, segera berhenti. Ambil jalan yang benar lagi. Karena dosa itu memang enak rasanya, melegakan, sesaat bisa menyelesaikan permasalahan, tapi efeknya akan menyakitkan di kemudian hari.
Sebelum terasa sakit, stop melakukan dosa yang berulang dari sekarang.

BERTOBATLAH SELAGI MASIH ADA WAKTU..... KARENA DOSA ITU NIKMAT UNTUK DILAKUKAN TUBUH, TAPI TIDAK BAIK UNTUK ROH.

Membayar Nazar 2 (part 2)

Babak baru pun saya mulai.

Saya tidak akan bercerita banyak tentang babak baru kehidupan awal sebagai siswa Perusahaan Migas.
Akan saya ceritakan di judul yang lain. Ini lebih bercerita tentang memenuhi janji setelah mimpi-mimpi terpenuhi.

Diawali dengan daftar ulang di Learning Center, masuk ke asrama dan mendapat teman sekamar baru (Helen dan Marsha).
Berkenalan dan tinggal satu kamar selama 4 bulan cukup membuat kita dekat dan saling terbuka.
Dan kita pun saling bercerita tentang pengalaman sampai bisa sampai ke Perusahaan Migas ini.

Untuk sebulan pertama tinggal di asrama rasanya penuh tekanan. Banyak alasan yang bisa membuat saya tertekan, mungkin karna saya kurang enjoy dengan kegiatan di sana, harus mengenal orang-orang baru, selain itu ditopang dengan gaji yang kurang dari sejuta tipa bulan rasanya sangat tidak enak. selain itu kita tidak bebas untuk keluar masuk asrama. Rasanya seperti burung dalam sangkar. Makanan dan kebutuhan hidup tersedia, tapi kebebesan sangat dibatasi. 
Tapi itu hanya berlangsung sebulan, setelah itu saya sudah bisa menikmati kehidupan asrama. Ditambah dengan teman-teman se-divisi saya semuanya sangat-sangat menyenangkan.


Setelah 4 bulan tinggal di asrama Learning Center, akhirnya saya dan teman-teman yang lain dilepaskan untuk siap berkarya di tempat-tempat yang sudah ditentukan.
Saya mendapatkan 3 lokasi untuk berkarya. Diawali dengan daerah Sumatera Bagian Selatan (Plaju, Palembang dan Prabumulih), Balikpapan dan terakhir kembali ke Jakarta.


Senang rasanya bisa berkarya dan bekerja kembali. Tapi ada yang mengganjal pikiran saya, yaitu nazar saya belum saya penuhi atau saya bayar. Tapi saya belum siap untuk botak, karena belum menyiapkan wig untuk menutupi rambut saya kalau botak. Apa kata atasan dan teman kantor saya seandainya mereka melihat ada wanita botak.Bisa-bisa penilaian magang saya mendapat nilai yang jelek dan saya dicap sebagai orang aneh.
Jadi saya putuskan untuk menunda sebulan lagi sambil saya berdoa minta ditunjukkan tempat menjual wig yang bagus dan cukup di kocek saya.


Sebulan berlalu. Tiap malam saya dihantui oleh nazar yang belum dibayar lunas sampai kebawa dalam mimpi. Semoga saya masih dikasih waktu.
Tanpa sengaja, saya dan kedua teman saya sedang berjalan-jalan ke salah satu mall di Palembang, dan di situ saya melihat sebuah toko yang khusus menjual wig. Bukan suatu kebetulan pikir saya.
Singkat cerita saya beli wig tersebut.
Setelah membeli wig, saya tidak langsung membotaki rambut saya. Butuh keberanian untuk melakukannya. 


Saya hanya merasa bodoh, sepertinya nazar itu tidak perlu dilakukan. Tuhan pasti maklum kok dengan keadaan saya, pikir saya dalam hati. Tapi kemudian saya diingatkan tentang kesetiaan.
Bagaimana seandainya Tuhan bukanlah Tuhan yang setia dengan perkataanNya? Dia setia, karena itu dia mau anak-anaknya juga setia.
Bagaimana seandainya Tuhan tidak meminta membayar nazar tapi lebih menuntut kepada kesetiaanmu akan perkataan yang sudah pernah kau ucapkan dengan sungguh-sungguh, mau kah kamu melakukannya? Atau bagaimana ini sebagai ujian mu, dimana Tuhan mau melihat kesetiaanmu. Meskipun dengan perkataan yang sepertinya bodoh.

Lama ku doakan dan bicarakan dengan Tuhan. Selain itu saya juga bertanya ke banyak orang tentang janji di hadapan Tuhan, apakah harus dipenuhi atau boleh diganti? Tapi sebagian jawaban mereka menganjurkan agar memenuhi janji saya tersebut.


Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya saya beranikan diri untuk membotak rambut saya. Wig sudah tersedia, alat cukur juga ada, yang kurang hanya keberanian untuk melakukannya.


Bodoh memang, tapi alasan saya ingin melakukannya hanya untuk membuktikan bahwa saya setia dengan perkataan saya. Susah dijelaskan dengan kata-kata mengapa saya bisa berani mengambil keputusan itu. Bagi perempuan, rambut adalah hal yang berharga, sehingga membotak rambut bisa dianggap sebagai keanehan yang diambil oleh perempuan. Gak tau mengapa juga keberanian itu bisa muncul. Mungkin ada keberanian yang terbentuk dari hasil perbincangan saya dengan Tuhan dalam waktu beberapa bulan J


Akhirnya hati sudah bulat. Tanggal 4 Februari 2012 saya putuskan untuk eksekusi pembotakan. Pelaku pembotaknya sendiri teman saya, kebetulan dia selalu membawa mesin penyukur rambutnya kemana-mana.
Saya lega dan bisa berkata bahwa saya menepati janji saya.
Dan saya memakai wig untuk beberapa bulan hingga rambut saya tumbuh :p


tidak kelihatan seperti wig kan?







Bukan untuk ditiru oleh banyak orang. Setiap orang boleh membuat janjinya sendiri dihadapan Tuhan.


Kamis, 16 Februari 2012

Membayar Nazar (Part 1)

Berawal dari mimpi dan cita-cita mendapat pekerjaan di perusahaan oil and gas milik negara dan keinginan mendapat rambut yang lebih bagus, saya secara gampangan mengucap satu nazar, dengan saksi adik saya sendiri.


kalau kakak lulus, kakak rela dibotakkin deh. Sekalian memperbaiki rambut. 
 Begitu saja kata-kata itu terlontar. Di dalam gereja, sewaktu pembacaan firman berlangsung. Dalam hati saya (yang kuingat sekarang), jika Tuhan mengijinkan saya lulus di perusahaan oil and gas itu,  Dia juga mengijinkan saya untuk mencukur rambut dan akan menumbuhkan rambut yang lebih bagus.


Itulah awal kejadian mengapa bisa ke cerita saya saat ini.Hingga mimpi itu pun terwujud.


Selang beberapa bulan setelah perkataan itu (saya lupa juga mana yang lebih dahulu terjadi), saya mengikuti medical check-up. Suatu tahapan yang harus dilalui sebelum lulus menjadi pegawai di perusahaan oil and gas.
Deg-degan campur dengan rasa takut muncul semua hari itu. Deg-degan bisa lulus tidak dan takut bagaimana kalau ada penyakit yang muncul yang aku ketahui setelah medical chek-up? Tapi semua harus dijalani, tidak ada pilihan lain.


Tahapan medical check-up nya panjang. Pertama-tama kita disuruh mengisi formulir, kemudian masuk ke lab untuk diambil darahnya, ke poli gigi, periksa toraks/paru, USG Perut, menampung urin, tes buta warna, penglihatan, pernapasan, pendengaran, cek umum oleh dokter, dan lari sejauh 1,6 km. Sewaktu cek umum oleh dokter, kita disuruh untuk membuka baju bagian atas seluruhnya, kemudian dokter akan melakukan cek. Tenang saja, perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki kok :D
Dokter mulai memeriksa, lutut, mulut dan tibalah dia memeriksa bagian penting, payudara. Dokter mulai meraba dan sepertinya dia merasakan benjolan di kedua payudara saya. "Kok ada benjolan, sakit ga mba?" tanya si mba Dokter. Saya jawab saja, "tidak". Deg-degan, detak jantung saya makin cepat, apakah itu gejala tumor?


Selesai periksa sana-sini, saya bertanya lagi : "Dok, emang benjolannya apa? Bahaya kah kira-kira?
"Kita rujuk kamu untuk cek lagi, ya. Supaya kamu lebih tenang," begitu jawab si dokter.
Deg-deg-deg... Jangan-jangan itu benar tumor. Tapi coba ku hilangkan dengan berpikiran positif.
Akhirnya tahapan itu selesai juga, dan ditutup dengan lari sejauh 1,6 km di Lapangan Banteng. Saya senang, tidak ada tanda-tanda akan dirujuk untuk check ulang, saya melewati persiapan lari dengan senyuman.
Hingga akhirnya tiba di Lapangan Banteng, saya mendapat shock terapy. Salah seorang petugas medis memanggil saya dan memberikan surat rujukan tepat sebelum saya lari.
Tulisannya : USG Mamae di bagian Radiologi RSPP.


Shock dan bagi saya saat itu, lari tidak perlu dilakukan. Perusahaan mana yang mau menerima orang yang menderita tumor.
Saya berusaha menahan tangis saat itu, malu dilihat peserta yang lain. Surat rujukan dimasukkan ke dalam tas, dan aba-aba untuk baris dan mulai lari sudah ada. Saya berusaha untuk berpikiran positif. Tidak semua benjolan berarti tumor, kalaupun iya saya masih punya Tuhan yang ajaib yang bisa menciptakan bumi, yang bisa menyembuhkan, masih ada harapan untuk sembuh dan mendapat mujizat besar meskipun itu hanya 10%. Tuhan itu ajaib, itulah yang saya pikirkan dan segera saya putuskan untuk ikut lari.


Sambil berlari saya juga menahan untuk tidak menangis, tidak menjadi orang yang cengeng. Tapi orang dalam kesedihan, bagaimanapun caranya sedikit airmata keluar juga. Satu putaran lapangan saya isi sambil menangis dan berbincang-bincang denganNYA.
"Aku gak kuat Tuhan. Aku hanya orang berdosa yang punya banyak salah, yang layak mendapat hukuman. Tapi apakah harus dihukum dengan penyakit dan tidak berhak bekerja di perusahaan yang bagus? Apakah ini yang terbaik buatku? Apapun itu, aku hanya percaya kalau Engkau punya rencana yang indah. Apapun hasil pemeriksaan besok, tolong Tuhan yang kuatkan orangtuaku yang menaruh harapannya pada ku."
(Setiap mengingat kejadian ini, saya masih sering menangis).
Untuk menghibur hati, saya berlari sambil menyanyi lagu Sekolah minggu : Ku menang..ku menang di dalam Yesus Tuhan, sambil berlari dan sambil menangis.
Laripun berhasil saya lewati dengan waktu yang bagus. Perjalanan pulang, saya masih menangis.




Untung ada seorang sahabat setia yang ada mendukung dan menghibur. Natalia Samosir namanya. Dengan adanya dia, saya bisa sedikit lebih tabah.


Pulang dari medical check-up saya kembali ke Depok dengan menggunakan KRL Jabodetabek. Di dalam kereta yang masih sunyi itupun saya masih menangis, sedikit ingin berontak kepada-NYA, tapi dalam hati terdalam hanya berkata :"siapa kamu mau berontak kepada Yang Maha Kuasa?"


Akhirnya dalam perjalanan kembali ke Depok, saya hanya bisa menangis terisak hingga tertidur. Hingga tidak peduli lagi dengan tatapan penumpang di dalam kereta itu. 
Hanya ingin diam dan menangis hingga lelah.




Perjalanan itupun berakhir di Stasiun Depok. Sampai di kosan pun saya hanya bisa menangis. Menangis hingga tertidur. Berharap hari ini dan vonis dokter itu tidak pernah ada. Berharap besok ada hal yang baik terjadi.




Pagi harinya, saya putuskan untuk secepat mungkin membuktikan kebenaran vonis dokter itu. Dan entah dapat penguatan dari mana, dalam hati saya tahu bahwa saya kuat untuk menghadapi apapun hari itu. 


Saya check-up ke RSPP sendiri. Selama chek-up, saya hanya berdoa dalam hati. "Tuhan, jikalau Engkau berkenan, tolong jauhkan penyakit ini dari saya. Atau jika ini memang harus terjadi, kuatkan saya."


Dokter memeriksanya sangat teliti. Hampir 45 menit saya diperiksanya. 


Hasilnya :


"Enggak ada Tumor, kok. Cuma pengaruh hormonal saja. Nanti hasil rontgen bisa kamu ambil di bagian depan ya. Kamu normal kok"


Dan saya hanya bisa bernyanyi riang sambil berkata : "Terima kasih Tuhan"


DIA sanggup ubah tangisan menjadi kebahagiaan hanya dalam hitungan jam...




Akhirnya setelah beberapa bulan selang medical chek-up tersebut, datanglah pengumuman yang menyatakan saya lulus tes dan diterima bekerja di perusahaan oil and gas itu. Sangat membahagiakan. 


Tahapan-tahapan yang berdarah-darah dan penuh airmata akhirnya memberikan kebahagiaan. Dream Comes True..


Bersamaan dengan kebahagiaan itu, ada babak baru yang harus dimulai. 
Saya harus botak...sesuai dengan janji saya di awal.


Tak mengapa. Saya harus setia dengan janji saya, sebagaimana DIA setia dengan janji-NYA.